Kamis, 27 September 2012

Kapal Perikanan Indonesia Rawai Tuna (Long line)


Rawai Tuna (Long line)

Rawai tuna atau tuna long line merupakan alat penangkap ikan tuna yang paling efektif. Rawai tuna merupakan ragkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus (Gambar 1). Satu tuna long liner biasanya mengoperasikan 1.000 -2.000 mata pancing untuk sekali turun. Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, yaitu menanti umpan dimakan oleh ikan sasaran. Pengoprasian alat ini adalah dengan menurunkan pancing ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyut mengikuti arus atau disebut drifting. Driftingberlangsung selama kurang lebih 4 – 5 jam, selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal.
 Gambar 1. Kapal long line

Umpan long line harus bersifat atraktif, misalnya sisik ikan yang mengkilat, tahan di dalam air dan tulang punggung yang kuat. Umpan dalam pengoperasian alat tangkap ini berfungsi sebagai alat pemikat ikan. Jenis umpan yang digunakan umumnya ikan pelagis kecil, seperti lemuru (Sardinella sp.), layang (Decapterussp.), kembung (Rastrelliger sp.) dan bandeng (Chanos chanos).Rawai tuna ini merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan karena bersifat selektif terhadap jenis ikan yang ditangkap. Jenis ikan tangkapan utama berupa ikan tuna dan ikan cakalang merupakan jenis komoditi yang exportable, sehingga pemanfaatan alat tangkap ini semakin meningkat. Dahuri (2001), menyampaikan bahwa potensi tuna dan cakalang di perairan indonesia adalah 780.040 ton. Oleh karena itu, pentingnya pengoperasian alat tangkap rawai tuna dibahas dalam tulisan ini.
Kapal Alat tangkap rawai tuna dioperasikan menggunakan kapal khusus rawai tuna yang memiliki buritan cukup luas untuk pengoperasian rawai menggunakan line hauler. Kapal yang digunakan berukuran yang bervariasi sekitar 30 – 600 GT. Ukuran kapal tersebut menentukan jumlah hari trip penangkapan yang dilakukan.Bahan pembuatan kapal ada yang terbuat dari kayu, FRP dan baja. Bahan kapal juga tergantung kepada ukuran besar kapal. Ukuran kapal lebih dari 150GT umumnya terbuat dari baja.
Alat tangkap rawai pada dasarnya rawai tuna terdiri atas 3 komponen utama, yaitu pelampung rangkaian tali temali dan pancing. Pada pancing dilengkapi dengan umpan berupak ikan utuh jenis pelagis kecil yang disukai ikan tuna. Jumlah pancing yang digunakan berkisar antara 800 – 2000 pancing dengan panjang rentang tali bisa mencapai ratusan kilimeter.
Alat bantu penangkapanAlat bantu yang dipergunakan dalam pengoperasian rawai tuna adalah lampu apung atau radio apung yang berfungsi sebagai pendeteksi keberadaan atau posisi alat tangkap. Selain itu juga umumnya dilengkapi dengan line hauler, line thrower, belt conveyor, penggulung tali cabang dan peralatan oseanografi.
Daerah penangkapan dan daerah penyebaran tuna di perairan Indonesia adalah di Samudera Hindia sebelah Barat Pulau Sumatera, Selatan Pulau Jawa, Laut Timor, Laut Sulawesi, Laut Flores, dan perairan sebelah Utara Papua (Naingolan, 2007). Beberapa kendala yang diamati oleh penulis adalah penentuan lokasi daerah penangkapan yang tepat, penggunaan peralatan tangkap dan peralatan pendukung lainnya, dan penangananan ikan hasil tangkapan.
1.    Penentuan daerah penangkapan ikan yang masih menggunakan metode –metode lama. Perkembangan teknologi menuntut pengusaha atau pun nelayan untuk bersaing dalam upaya penangkapa ikan. Penggunaan teknologi yang terus berkembang mengakibatkan operasi kapal rawai yang belum menggunakan teknologi terbaru susah bersaing dengan kapal rawai yang menggunakan teknologi terbaru. Penggunaan teknologi terbaru akan lebih cepat menentukan daerah penangkapan ikan dan berakibat pada penekanan biaya operasional
2.    Posisi penurunan atau pengangkatan alat tangkap rawai yang umumnya panjang (berkisar antara 800 – 2000 mata pancing panjanynya mencapai ratusan kilometer) menuntut kemampuan dan keterampilan ABK dalam penggunaan peralatan tangkap dan peralatan pendukung lainnya. Kesalahan dalam penurunan dan pengangkatan rawai berakibat pada kecelakaan seperti putusnya tali, tersangkutnya kail, dan lain – lain.
Penanganan ikan hasil tangkapan pada kapal rawai tuna ini umumnya sudah memenuhi standar kualitas penanganan mutu yang diinginkan oleh konsumen. Namun demikian, penanganan ikan pun membutuhkan keterampilan pemilahan ikan dari kail dan penggunaan teknologi yang digunakan untuk menyimpan ikan. Solusi operasional rawai tuna yang efektif dan efisien bukanlah jawaban yang mudah. Namun demikian, penulis mencoba membahas berdasarkan faktor-faktor kendala sebagaimana dijelaskan di atas.Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna (Thunnus spp.) dan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan jenis ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat tangkap ikan menggunakan rawai tuna harus disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan yang menjadi tujuan penangkapan.Umumnya tuna dan cakalang dapat tertangkap pada keldalaman 0 – 400 meter. Salinitas perairan yang disukai berkisar 32 – 35 ppt atau di perairan oseanik dan suhu perairan berkisar17 – 31o C.Penentuan daerah penangkapan dengan tepat dapat dilakukan dengan dukungan berbagai informasi dan bantuan teknologi yang terus berkembang selain dengan secara visual langsung di perairan. Penggunaan teknologi saat ini adalah penginderaan jauh kelautan dan hidroakustik yang menentukan daerah penangkapan dengan menganalisis secara fisika kimiawi perairan.


KARAKTER KAPAL IKAN


Kapal ikan merupakan kapal yang fungsi utamanya digunakan untuk menagkap ikan dan mengangkut ikan. dibawah ini adalah gambar kapal ikan
 
gambar kapal ikan

Sistem Penggerak Kapal ikan
Kapal ikan yang berlayar merupakan suatu benda yang bergerak di media air, dengan sendirinya benda tersebut akan mengalami gaya lawan (resistance force) dari media yang dilaluinya. Untuk mengatasi gaya lawan pada kapal ikan tersebut harus diberi gaya penggerak kapal (propulsion force), yang mana propulsion force digerakkan oleh alat propulsi kapal ikan.
Alat propulsi kapal ikan yang sering digunakan adalah :
  1. Alat propulsi non mekanis : dayung, layar.
  2. Alat propulsi mekanis antara lain roda pedal, propeller kapal.
Sumber tenaga alat propulsi mekanis adalah mesin diesel, turbin uap, maupun turbin gas, sehingga dapat dikatakan sistem penggerak kapal ikan adalah suatu rangkaian mesin kapal – poros propeller –propeller kapal yang terdapat pada suatu kapal ikan yang digunakan untuk mengatasi resistance force.   

Instalasi Mesin dan Perlengkapan kapal ikan 
  • Mesin Kapal ikan
Disamping mesin yang dibutuhkan langsung sebagai penggerak kapal ikan, kapal ikan juga dilengkapi dengan alat – alat bagi kegiatan lain. Mesin kapal ikan adalah istilah yang mencakup seluruh perlengkapan mekanis yang dibutuhkan dalam pelayaran kapal. Tetapi dalam artian sempit yang dimaksud mesin kapal ikan hanyalah mesin pendorong induk. Mesin induk (main engine) adalah penggerak utama untuk membangkitkan tenaga penggerak untuk mendorong kapal ikan , mesin yang paling sering digunakan adalah mesin diesel atau turbin uap. Mesin kapal ikan yang digunakan diatas kapal ikan harus memenuhi syarat – syarat sebagai berikut :
  1. Ringan dan bervolume kecil
  2. Tingkat kemampuan yang tinggi
  3. Stabil dan tahan goncangan
  4. Getaran minimum
  5. Mudah dikerjakan, diperiksa, dan dipelihara.
  6. Alat pembalik arah dan pengubah kecepatan yang mudah dan praktis.
  7. Pemakaian bahan bakar yang murah.
Sebaiknya mesin kapal dipasang pada kedudukan datar, mengingat efisiensi baling – baling ada pada keadaan maksimum bila kedudukan mesin datar. Sudut kemiringan mesin tidak lebih (maksimum) 10°
  • Poros propeller kapal ikan
Poros berfungsi untuk meneruskan tenaga gerak dari mesin induk ke baling – baling, dimana tenaga gerak tersebut diubah menjadi tenaga pendorong. Tenaga kerja yang dihasilkan mesin induk diteruskan dalam bentuk putaran melalui serangkaian poros ke baling – baling diberikan dorongan yang dibangkitkan oleh baling – baling diteruskan kebadan kapal ikan oleh poros baling – baling.
Rangkaian poros itu disebut “shafting” dan pada umumnya terdiri dari bagian – bagian berikut :
1.    Poros pendorong (Thrust shaft)
2.    Poros bagian tengah (Intermediate shaft)
3.    Poros baling – baling (Propeller shaft)
Ketiga poros ini dihubungkan oleh flange couplings (sambungan flens).
  • Propeller  kapal ikan (baling – baling)
Baling – baling ulir merupakan bentuk alat penggerak yang paling umum. Sebuah baling – baling ulir mempunyai dua buah daun atau lebih yang menjorok dari bub atau bos. Bos ini dipasang pada poros yang digerakkan oleh mesin penggerak kapal ikan. Daun baling – baling tersebut dapat merupakan bagian yang menyatu dengan bub, atau merupakan bagian yang dapat dilepas dan dipasang pada bub (umumnya jarang dipakai), atau merupakan daun yang dapat dikendalikan. Baling – baling umumnya diletakkan pada kedudukan serendah mungkin dibagian belakang kapal ikan.  
Apabila D adalah diameter baling – baling maka jarak minimal ujung daun baling – baling dengan bagian konstruksi di sekitar baling – baling adalah :
-    Dengan linggi buritan diatasnya 0,05 D
-    Dengan linggi buritan didepannya 0,13 D
-    Dengan lunas 0,1 D
-    Dengan ujung depan daun kemudi 0,1 D
Bagian poros yang berada antara baling – baling dengan bos tabung poros baling – baling minimal 1,5 diameter poros baling – baling. 
  • Pipa gas buang kapal ikan
Pipa gas buang berfungsi untuk menyalurkan gas hasil pembakaran minyak dari mesin keluar sejauh mungkin dari kapal ikan. Gas buang dapat disalurkan keluar melalui transom atau keatas menembus geladak dan atap bangunan atas. Untuk peredam suara, pipa gas buang dilengkapi dengan tabung peredam suara (muffler).
  • Sistem pendingin kapal ikan
Sistem pendingin pada motor induk diatas kapal ikan berdasarkan fluida pendingin terdiri dari air tawar, air laut ataupun minyak pelumas. Tapi prosentase terbesar yang berpengaruh pada sistem pendingin adalah akibat dari air tawar dan air laut. Ada 2 macam sistem pendinginan yaitu :
-    Sistem Pendinginan Terbuka
-    Sistem Pendinginan Tertutup
Pada Sistem Pendinginan Terbuka ini fluida pendingin masuk kebagian mesin yang akan didinginkan, kemudian fluida yang keluar dari mesin langsung dibuang kelaut. Fluida yang digunakan pada sistem pendinginan ini dapat berupa air tawar ataupun air laut. Sistem ini kurang menguntungkan dalam hal operasional. Dimana apabila fluida yang digunakan adalah air tawar maka akan menyebabkan biaya operasional yang tinggi dan tidak ekonomis. Sedangkan apabila menggunakan air laut dapat menyebabkan kerusakan pada komponen mesin dan akan terjadi endapan garam pada komponen mesin yang didinginkan.
Sistem Pendinginan Tertutup ini merupakan kombinasi antara sistem pendinginan air tawar dan air laut. Sistem pendinginan air tawar (Fresh Water cooling System) melayani komponen - komponen dari mesin induk ataupun mesin bantu. Kebanyakan sistem pendingin air tawar menggunakan peralatan sirkulasi pendingin untuk sistem pendingin air laut yang secara terpisah. Dimana peralatan yang digunakan adalah heat exchanger/cooler (penukar panas). Air tawar pendingin mesin yang keluar dari mesin didirkulasikan ke heat exchanger, dan di dalam alat inilah air tawar yang memiliki suhu yang tinggi akan didinginkan oleh air laut yang disirkulasikan dari sea chest ke alat heat exchanger.
  •  Sistem bahan bakar kapal ikan
Sistem bahan bakar adalah suatu sistem pelayanan untuk motor induk yang sangat vital. Sistem bahan bakar secara umum terdiri dari fuel oil supply, fuel oil purifiering, fuel oil transfer dan fuel oil drain piping system. Sistem bahan bakar merupakan suatu sistem yang digunakan untuk mensuplai bahan bakar dari bunker ke service tank dan juga daily tank dan kemudian ke mesin induk atau mesin Bantu. Adapun jenis bahan bakar yang digunakan diatas kapal ikan bisa berupa heavy fuel oil (HFO), MDO, ataupun solar biasa tergantung jenis mesin dan ukuran mesin
Untuk sistem bahan bakar suatu engine, semua komponen yang mendukung sirkulasi bahan bakar harus terjamin kontinuitasnya karena hal tersebut sangat vital sekali dalam operasional, maka dalam perancangan ini setiap komponen utama sistem harus ada yang stand bay (cadangan) dengan tujuan jika salah satu mengalami trouble/disfungsi dapat secara otomatis terantisipasi dan teratasi. 

Kemudi dan Instalasi Kemudi kapal ikan
Kemudi kapal ikan harus dilengkapi dengan sistem kemudi yang akan menjamin kemampuan olah gerak yang cukup. Sistem kemudi mencakup seluruh bagian peralatan yang diperlukan untuk mengemudikan kapal ikan mulai dari kemudi dan instalasi kemudi sampai ketempat kemudi.
  • Kemudi kapal ikan
Instalasi kemudi adalah suatu sistem yang menjamin olah gerak kapal ikan yang cukup. Kemudi berfungsi untuk menentukan dan mengatur arah haluan atau maneuvering kapal ikan. Kemudi memberikan balance pada kapal ikan baik dalam putaran maupun arah gerak lurus. Pada saat terjadi perubahan letak kemudi ke samping kiri atau kanan maka akan terjadi gaya baru yang merupakan tekanan normal pada setiap kemudi. Gaya itu yang membuat pergerakan tertentu dari kapal ikan menuju ke arah pusat. Jadi sesudah perubahan letak kemudi membentuk sudut dari sumbu tangent maka gerakan kapal ikan akan mengarah pada gerakan lama dari titik berat kapal ikan dan mengadakan putaran mengelilingi titik itu. Jadi luas putaran teritorial gerakan kapal ikan tersebut disebut sirkulasi.
  •  Bentuk geometris kemudi kapal ikan
Berdasarkan letak sayap kemudi terhadap porosnya maka kemudi dibagi : 
  1. Kemudi biasa (simple rudder), dimana luas sayap kemudi terletak di belakang sumbu kemudi
  2. Kemudi balansir (balance rudder), dimana luas sayap kemudi terbagi dua, yaitu bagian depan dan belakang sumbu putar
  3. Kemudi setengah balansir (semi balance rudder), dimana bagian atas sayap kemudi termasuk kemudi biasa, sedangkan bagian bawah merupakan kemudi balansir tetapi bagian atas dan bawah tetap merupakan satu bagian
Berdasarkan sepatu linggi (sulfies) kemudi kapal dibagi menjadi  :
  1. Kemudi meletak
  2. Kemudi menggantung
  3. Kemudi setengah menggantung
Berdasarkan konstruksinya kemudi kapal dibagi atas : 
  1. Kemudi plat (satu lapis plat)
  2. Kemudi berongga
  3. Kemudi khusus
Steering gear berfungsi untuk menentukan gerakan daun kemudi dan merespon isyarat dari ruang kemudi dengan tujuan menjamin kontrol kapal ikan dan kualitas manuver. Sistem steering gear terdiri dari tiga tahap yaitu tahap perlengkapan kontrol untuk memindahkan suatu isyarat dari sudut kemudi diinginkan dalam ruang kemudi dan kerja dari unit – unit tenaga serta transmisi sampai pada sudut yang diinginkan. Tahap berikutnya yaitu tenaga memberikan kekuatan atau gaya dan dengan pengaruh penghantar untuk menggerakkan kemudi menggunakan sudut yang diinginkan. Tahap terakhir adalah sistem transmisi dimaksudkan agar daun kemudi tercapai.
intinya postingan ini sangat tidak sempurna padahal sumbernya dari landasan teori skripsi tapi koq tidak nyambung ya??? ya sudah lah  sampe disini dulu postingan saya tentang kapal ikan

Rabu, 26 September 2012

Penemuan Ikan Terbaru mirip squidwards

Satu lagi ikan aneh yang ditemukan, sebelumnya di China (baca Ditemukan Ikan Alien Di Danau Bawah Tanah) kali ini berada di perairan yang dalam tepatnya lepas pantai Tasmania - sekitar 9.600 kilometer jauhnya. Namun ikan ini adalah paling mengerikan di dunia.


Dari laporan peneliatian ahli Amerika, Ikan Blobfish saat ini menjadi hantu bagi penduduk. Seperti yang dapat Anda lihat dari foto, ikan blobfish (Psychrolutes marcidus) adalah ikan yang paling mengerikan di dunia.

Ikan yang bisa melompat dan sebesar ikan mas ini bisa menghisap darah dan membuat cacat tubuh bila digigitnya. Apalagi lendirnya sangat berbahaya. Tapi ada sesuatu yang lebih buruk lagi. Wajahnya.

Kebanyakan ikan tidak punya wajah. Anda pernah mendengar orang merujuk kepada "mata ikan" atau "bibir ikan,".

Penemuan Ikan Yang Paling Mengerikan Di Dunia
Tapi sebenarnya blobfish memiliki wajah. Bukan wajah ikan, tetapi wajah manusia, lengkap dengan bibir dan besar, hidung bulat.

Sebuah blobfish tampak seperti lemak, dan mungkin sangat cerdas. Dan karena itu sangat berbahaya.

"Itu kotor!" kata seorang editor surat kabar Amerika ang tidak percaya seperti dikutip koran Los Angeles Times. Tapi begitu ia melihat foto-foto, ia mulai terlihat mengetukkan jari tangan kanannya.

Beberapa ahli biologi kelautan bisa meyakinkan bahwa hidup blobfish jauh di dalam perairan di lepas pantai Tasmania - sekitar 9.600 kilometer jauhnya - dan bisa dipastikan tidak pernah menemukan jalan ke Chicago kapal sungai atau kanal.

sumber :http://info-unik-dunia.blogspot.com

Peluang Usaha Perikanan Gurame


Usaha perikanan banyak memberikan pendapatan bagi masyarakat meski awalnya sering dipandang sebelah mata. Sebagai salah satu pendukung kebutuhan pangan dan kehidupan yang bergizi, ikan memberikan asupan gizi yang cukup sehingga banyak orang kini mengkonsumsinya. Apalagi dalam membudidayakannya telah banyak mengalami kemajuan sehingga untuk mengembangkan usaha ini banyak mendapat menarik minat dan perhatian dari berbagai pihak.
Hal inilah yang dialami oleh Wiwid bersama Bambang yang merintis usaha perikanan di Desa Jambidan Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Melihat banyaknya tenaga kerja produktif di desanya berbondong-bondong mencari kerja, mereka tertantang untuk membuktikan bahwa perikanan bias memberikan penghidupan.
Sehingga pada tahun 1998 mereka mencoba untuk membudidayakan lele dan memperoleh hasil yang cukup bagus. Mereka berdua memulai usaha ini hanya berbekal modal Rp50.000,- dan hingga saat ini usaha ini telah manjadi sentra proyek percontohan tingkat nasional. Melihat hasil yang cukup menjanjikan, banyak masyarakat sekitar tertarik untuk mengembangkannya, apalagi saat itu krisis moneter sedang melanda.
Pendirian Kelompok Usaha Tani
Melihat banyaknya minat dari masyarakat sekitar,Wiwid dan Bambang ditambah Heru mendirikan kelompok tani ikan. Dengan berdirinya kelompok tani ini diharapkan;
1. Menambah motivasi untuk terus maju
2. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk mengembangkan usaha ini
3. Menjaga kekompakan
4. Mempunyai visi yang sama dalam pengembangannya, termasuk dalam penerapan standar harga
Mereka mengumpulkan petani-petani ikan di desa tersebut dan mendirikan kelompok tani Mino Raharjo dimana saat peresmiannya mendatangkan petugas PPL Kecamatan dan Dinas Koperasi.
Dengan berjalannya waktu, banyak petani yang ingin bergabung dengan kelompok tersebut. Untuk menjaga efektifitas, kelompok tani tersebut membatasi jumlah anggotanya 30 orang. Sedangkan sisanya mereka fasilitasi sehingga terbentuk kelompok-kelompok baru yang mencapai 4 kelompok tani di desa Jambidan.
Masing-masing kelompok mempunyai agenda sendiri-sendiri. Prestasi yang pernah diraih antara lain menjadi proyek percontohan gurame tingkat nasional dan model pendanaan tingkat nasional sebesar Rp 900juta. Selain itu juga, beberapa LSM dan lembaga-lembaga resmi lain diantaranya UNDP, menggandeng mereka dalam mengembangkan usaha ini.
Semakin berkembangnya usaha tersebut, kelompok tani ini mencoba menciptakan diversifikasi produk. Pada awalnya pembibitan lele kemudian mereka mencoba pembibitan gurame. Setelah melewati beberapa waktu ternyata hasil dari pembibitan gurame lebih bagus dibanding pembibitan lele.
Mulai saat itulah mereka fokus untuk mengembangkan budidaya gurame sehingga saat ini mereka lebih dikenal dengan sentra budidaya gurame. Dalam pembudidayaan ini, mereka tidak fokus dalam pemijahan. Mayoritas petani fokus pada penetasan telur dan pembesaran.
Mereka membeli benih telur gurame seharga Rp30,- per ekor dan telur-telur ini mereka peroleh dari petani ikan di desa tersebut dan sekkota-kota sekitarnya. Produk yang dihasilkan petani ikan di kelompok tersebut berbeda-beda. Ada yang fokus hanya menyediakan telur ikan, ada yang fokus menyediakan bibit ikan usia 1 bulan, bibit usia 2 – 4 bulan sampai dengan bibit seukuran bungkus rokok atau berat 5 ons. Jika dirata-rata, kelompok tani tersebut bisa menghasilkan 2,5juta ekor per bulan.
Saat ini, UPR Mino Raharjo mengelola kolam yang tersebar di wilayah desa tersebut dengan total luas lahan mencapai +/- 7 hektar. Masing-masing petani mengelola kolamnya sendiri kecuali pada saat panen tiba. Biasanya mereka dibantu 2-3 orang yang membantu penangkapan, penghitungan, dan pengemasan. Tenaga kerja ini mendapat upah Rp30.000,- per hari.
Proses Produksi
Dalam proses produksinya, setelah telur menetas langsung ditempatkan dalam ember-ember khusus supaya benih-benih tersebut aman dan kuat hingga usia 4 hari. Kemudian dipindahkan ke dalam kolam-kolam hingga usia 1 bulan.
Kolam ukuran 2×2m bisa memuat 10ribu ekor bibit. Untuk mendapatkan bibit dengan ukuran yang lebih besar lagi, bibit tersebut dipindahkan ke kolam tanah dengan ukuran 5×5m atau lebih besar. Saat pembesaran bibit yang harus diperhatikan adalah kesehatan dan kondisi air. Ukuran ikan untuk dijual sesuai target pasar yang ingin disasar masing-masing petani. Untuk pakan, masing-masing ukuran dan usia bibit berbeda. Misal:
Usia bibit             Jenis pakan          Jumlah pakan           Harga pakan
Telur-1 bulan        Cacing sutra         10ribu ekor = 7lt/bulan  Rp10rb/liter
1 – 2 bulan          D0 (pelet gembur)    10ribu ekor = 10kg       Rp11rb/kg
                                         atau secukupnya
2 bulan atau lebih   pelet (jenis min2)   sesuai ukuran yang       Rp6500/kg
                                         ingin dicapai
Harga pakan yang cukup mahal menjadi salah satu kendala dalam pembudidayaan ikan gurame ini.
Keuntungan dalam budidaya gurame dibandingkan dengan jenis ikan yang lain adalah :
  1. Permintaan gurame yang cukup tinggi sehingga pasar terjamin
  2. Nilai jual yang cukup tinggi
  3. Bisa dijual dalam usia atau ukuran berapa pun karena kebutuhan pasar sangat variatif.
Sedangkan keunggulan budidaya gurame yang diterapkan kelompok tani Mino Raharjo adalah sistem guba, gugus simba, dimana bibit diberi suplemen nutrisi sehingga ikan dalam kategori sehat dan kualitas baik serta pengelolaannya dilakukan oleh petani yang cukup ahli dalam pembibitan dan pembesaran. Proses penjualannya dilakukan seleksi sesuai kualitas dan ukuran.
Pemasaran sampai ke luar pulau
Sejauh ini mayoritas konsumen berasal dari Jogja dan pulau Jawa, beberapa Sumatera dan Kalimantan. Untuk wilayah Jogja sendiri mereka hanya bisa memenuhi 25% dari permintaan. Mereka diantaranya adalah petani pembesaran, pedagang besar, rumah makan dan sebagainya. Harga jual untuk bibit usia 1 bulan adalah Rp150,-per ekor dan untuk ukuran konsumsi (5 ons) Rp21.000/kg.
Dengan besarnya permintaan, adanya kompetitor tidak terlalu dirasa pengaruhnya. Salah satu upaya kelompok ini untuk memenuhi kebutuhan pasar, mereka mencoba memasyarakatkan budidaya gurame dengan mengadakan pelatihan rutin 1 bulan sekali. Demi kenyamanan dan efektifitas, peserta peltihan sehari itu dibatasi 25 sampai 30 orang. Mereka juga melayani konsultasi pembudidayaan tersebut.
Rencana ke depannya, UPR Mino Raharjo, pada tahun 2010 mentargetkan menjadi sentra percontohan dengan mengembangkan usaha perikanan dengan sistem one stop shoping. Diatas lahan di sebelah selatan desa seluas 2 hektar, dengan target dana Rp2milyar, mereka akan mengembangkan kawasan budidaya ikan terpadu dari hulu sampai hilir.
Mulai dari penetasan, pembesaran sampai dengan produk jadi yaitu ikan matang yang disajikan di rumah makan yang akan didirikan di atas lahan tersebut juga. Di samping itu, lokasi tersebut akan dilengkapi arena bermain dan wisata sehingga saat orang dewasa belajar budidaya, anak-anak diberikan fasilitas bermain. Saat ini, dengan perkembangan budidaya dan besarnya pasar, peluang masih cukup terbuka. Apakah anda ingin mencoba?
Analisa Ekonomi:

Analisis keuangan dibuat dengan basis perhitungan
1000 ekor bibit gurame ditebar

Pengeluaran
Pembelian bibit       : 1.000 ekor x Rp.    150,00   = Rp.   150.000,00
Pakan D0              :    10 kg   x Rp. 11.000,00   = Rp.   110.000,00
Pakan Pelet           :   900 kg   x Rp.  6.500,00   = Rp. 5.850.000,00
Total Pengeluaran                                    = Rp. 6.110.000,00

Pendapatan
Penjualan Ikan Gurame : 400 kg     x Rp. 21.000,00   = Rp. 8.400.000,00
Total Pendapatan                                     = Rp. 8.400.000,00
Keuntungan   = Rp. 8.400.000,00 - Rp. 6.110.000,00   = Rp. 2.290.000,00
(Sumber: Tim BisnisUKM)

Kerapu Tikus Siap Diekspor ke Hongkong



Kerapu Tikus Siap Diekspor ke Hongkong
Kerapu.

REPUBLIKA.CO.ID, MINAHASA, SULUT - Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Minahasa Utara Ronny Siwi mengatakan, daerahnya pada bulan Oktober 20120 direncanakan siap mengekspor ikan jenis kerapu macan dan tikus ke luar negeri tepatnya Hong Kong.
"Ada sekitar 10 ton kerapu macan juga tikus akan di ekspor ke Hong Kong pada bulan depan," katanya di Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, Ahad (24/9). 
Ia mengatakan, Minahasa Utara, khususnya di bidang Perikanan dan Kelautan, akan lebih fokus pada produk-produk sifatnya berorientasi ekspor. "Seperti halnya tangkapan-tangkapan ikan karang yang memiliki nilai ekonomi penting, penjualannya akan lebih kepada mancanegara, karena pengelolaan serta daya beli negara luar sangat tinggi, sehingga hasil atau pendapatan daerah kita akan meningkat juga," katanya.
Dengan niat untuk orientasi ekspor tersebut, setidaknya akan memberikan kontribusi positif bagi nelayan Minahasa Utara. "Secara otomatis kesejahteraan rakyat akan meningkat dan bisa dinikmati sendiri terhadap hasil tangkapannya," kata Siwi.
Dia mengatakan perbandingan tahun 2011 untuk budidaya perikanan khususnya jenis ikan kerapu, untuk 2012 ini mengalami peningkatan hingga 60 persen.
Namun demikian, pihaknya akan melengkapi proses perizinan untuk kapal dari Hongkong berlabuh di Minahasa Utara langsung pada keramba-keramba yang ada.
"Karena ini merupakan ekspor perdana, paling tidak kita harus memberikan kesan baik bagi pembeli dari Hongkong, bila transaksi di daerah kita dalam pengurusan izinnya mudah," katanya.


Redaktur: Yudha Manggala P Putra
Sumber: Antara
KELAUTAN DAN PERIKANAN
KKP Cetak SDM lewat STP


Selasa, 25 September 2012
JAKARTA (Suara Karya): Mencetak sumber daya manusia (SDM) yang andal, terlatih, dan tangguh di sektor kelautan dan perikanan merupakan upaya yang akan terus dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Untuk itu, sekolah tinggi perikanan (STP) di lingkungan KKP terus meningkatkan kualitas anak didik melalui penambahan materi perkuliahan dan praktik kerja lapangan, tentunya didukung dengan peralatan yang memadai.
Kepala Badan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) KKP Sjarief Widjaja mengatakan, sudah saatnya masyarakat Indonesia mengelola kekayaan laut yang melimpah untuk peningkatan kesejahteraan. Dengan demikian, dibutuhkan penggalian ilmu untuk menciptakan teknologi, sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan masrakat luas dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Menurut dia, contoh kecil yang bisa dilihat, banyak perusahaan kosmetik di Indonesia yang mengambil bahan baku/bahan setengah jadi dari luar negeri (impor). Padahal Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar di dunia. Lalu mengapa perusahaan tersebut harus melakukan impor bahan baku rumput laut yang memang itu tersedia di dalam negeri? Kondisi ini harus segera diubah, dengan cara menyiapkan teknologi dan SDM yang dibutuhkan, sehingga perusahaan kosmetik mau mengambil bahan baku dari dalam negeri. "STP sudah menyiapkan teknologinya dan kemudian menurunkannya kepada para mahasiswa. Apa saja yang bisa diolah dari rumput laut? Dan, di mana pasar untuk menjualnya ketika bahan baku tersebut sudah diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi? Kampus ini mengajarkan semuanya," kata Sjarief di sela peresmian STP Karawang oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo dan Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, belum lama ini.
Dia menjelaskan, keseriusan KKP dalam membangun SDM perikanan dan kelautan bisa dilihat dari dibangunnya dua STP di Karawang (Jawa Barat) dan Wakatobi (Sulawesi Tenggara). "Kami akan jadikan mahasiswa di STP menjadi ahli dalam mengelola sumber daya kelautan untuk kesejahteraan masyarakat," katanya.
STP Karawang sendiri akan ditingkatkan statusnya menjadi Institut Kelautan dan Perikanan Nasional (IKPN). Peningkatan status ini merupakan langkah strategis KKP guna mencetak SDM yang kompeten dan memenuhi standar sertifikasi dunia industri serta untuk menopang keberhasilan industrialisasi kelautan dan perikanan. Karena itu, kampus ini akan mengadopsi sistem vokasi bertaraf internasional pada jenjang diploma, magister sains terapan, dan doktor sains terapan. (Bayu)

sumber:http://www.suarakarya-online.com

"harta" itu bernama kerapu




Indonesia boleh berbangga. Kekayaan biota laut perairan kita ibarat ”surga” yang kerap membuat iri negara lain. Adalah kerapu (Epinephelinae) salah satu komoditas unggulan yang sukses diternakkan di Tanah Air dan banyak diburu negara lain.

Seorang pengusaha ikan kawakan pernah menuturkan, perairan Indonesia terpengaruh oleh dua musim subur bagi perkembangbiakan ikan-ikan laut. Hanya saja potensi itu belum diperhatikan, termasuk oleh negara.
Saat ini pasar ikan kerapu tidak terdengar gaungnya di dalam negeri sebab sebagian besar produknya ”dilarikan” ke luar negeri. Harga ikan dengan ciri tutul-tutul atau belang-belang di tubuhnya ini mencapai Rp 500.000 per kilogram.

Sebagai ilustrasi, harga ekspor kerapu bebek saat ini 50 dollar AS (sekitar Rp 465.000) per kg, kerapu macan 11 dollar AS per kg, dan kerapu lumpur 10 dollar AS per kg. Ukuran kerapu yang diekspor minimal 500 gram per ekor.

Bangun Sitepu, pembudidaya kerapu di Lampung Barat, menuturkan, ekspor kerapu ke Asia terus naik seiring tingginya minat penduduk Asia Timur mengonsumsi kerapu. Apalagi tidak banyak negara di Asia mampu membudidayakan kerapu di wilayah perairannya.

Beberapa jenis kerapu yang sukses dibudidayakan di Tanah Air meliputi kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) yang harga jualnya tinggi. Selain budidaya, produksi kerapu juga diperoleh dari penangkaran hasil tangkapan alam, di antaranya kerapu sunu (Plectropomus spp) dan kerapu lumpur (Epinephelus suillus).

Sitepu menuturkan, banyak pembudidaya kerapu asal Thailand, Malaysia, Hongkong, dan China membeli benih kerapu bebek dari Indonesia untuk dikembangbiakkan. Namun, upaya pemijahan itu kerap gagal.

”Sudah 10 tahun terakhir pembudidaya kerapu luar negeri membeli benih kerapu bebek untuk dibudidayakan, tetapi hasilnya sulit karena kerapu bebek dan macan ternyata lebih cocok berkembang biak di perairan Indonesia,” ujar Sitepu, yang juga Ketua Forum Komunikasi Kerapu Lampung.

Produksi kerapu di Tanah Air tersebar di sejumlah daerah. Kerapu bebek, misalnya, tersebar di Lampung, Bali, Lombok, Sumbawa, Bangka Belitung, dan Ambon. Adapun kerapu sunu yang mengandalkan hasil tangkapan alam di Sumatera.

Tingginya permintaan ekspor membuat konsumen luar negeri rela ke sentra-sentra produksi kerapu di sejumlah perairan Indonesia guna memburu ikan bernilai mahal itu.

”Berapa pun hasilnya, pasti diserap pasar. Ini membuat nilai tawar kerapu cenderung tinggi,” ujar Sitepu.

Budidaya kerapu mendorong pertumbuhan usaha pembenihan. Benih kerapu saat ini dijual rata-rata Rp 12.000-Rp 14.000 per ekor benih ukuran 6-7 cm. Namun, pasokan benih terkadang terbatas.

Di Belitung, misalnya, kebutuhan benih kerapu mencapai 10.000-15.000 ekor. Namun, terkadang para pembenih tidak mampu memasok semuanya.

Dedi Yusrifan, pembenih kerapu di Belitung, menuturkan, kegagalan pembenihan kerap dipicu oleh mutu telur yang kurang baik dan cuaca yang tidak mendukung.

Belum didukung
Kendati prospek usahanya tinggi, belum banyak orang berani terjun ke usaha ikan kerapu. Total areal budidaya kerapu secara nasional saat ini baru 84.500 hektar, hanya 2,51 persen dari potensi budidaya laut seluas 3,36 juta hektar.

Kendala budidaya itu dipicu oleh usaha kerapu yang padat modal dengan masa produksi relatif lama. Budidaya kerapu macan, misalnya, membutuhkan waktu 1 tahun 7 bulan untuk ukuran siap ekspor. Kerapu bebek mencapai 10 bulan, sedangkan penangkaran kerapu hasil tangkapan membutuhkan 10 bulan hingga 1 tahun.

Modal operasional budidaya kerapu juga tinggi. Dibutuhkan dua jenis pakan, yakni pakan berupa ikan kecil seharga Rp 2.500-3.000 per kg serta pelet Rp 55.000 per kg. Setiap KJA kerapu berisi 250 ikan membutuhkan rata-rata 3-6 kg pakan ikan setiap hari, di luar kebutuhan pelet.

Usaha kerapu yang sebagian besar dikembangkan di daerah terpencil juga terganjal pasokan listrik, transportasi, maupun minimnya pendampingan dari pemerintah. Zonasi kawasan budidaya yang belum diatur membuat lokasi budidaya kerap tumpang tindih dengan alur pelayaran ataupun terkontaminasi limbah.

Sementara itu, pembiayaan untuk sektor perikanan masih dihindari oleh perbankan. Akibatnya, kredit usaha perikanan terbelakang dengan realisasi di bawah 1 persen per tahun.

Tahun 2009 telah ada kesepakatan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Bank Indonesia untuk meningkatkan pendampingan usaha kecil dan menengah agar memperoleh akses pembiayaan perbankan serta informasi pola pembiayaan komoditas unggulan perikanan. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil.

Andai dikelola dengan tepat, potensi kerapu akan membangkitkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Imbal balik berupa pendapatan dan devisa sudah tentu juga dinikmati negara.

oleh: BM Lukita Grahadyarini
sumber: KOMPAS